Menjadi Pribadi Pembelajar
Showing posts with label Bahan Ajar 22. Show all posts
Showing posts with label Bahan Ajar 22. Show all posts

Sunday, 8 May 2016

KOLOID

KOLOID

1.       Perbadaan larutan, koloid dan suspensi (campuran)

NO

Larutan

koloid

suspensi

1

Ukuran partikel kurang dari 10⁻7cm

Ukuran partikel kurang dari 10⁻7cm - 10⁻⁵ Cm

Ukuran partikel lebih dari 10⁻7cm

2

stabil

Relatif stabil

Tidak stabil / mengendap

3

Partikel tidak tampak pada mikroskop ultramikro

Partikel tampak pada mikroskop ultramikro

Partikel  tampak oleh mata dan pada mikroskop ultramikro

4

Dapat melewati saringan dan membran semi permiabel

Dapat melewati saringan dan tidak dapat melewati membran semi permiabel

Tidak Dapat melewati saringan dan membran semi permiabel

 

-          Sistem dispersi (ada pada koloid): penyebaran secara merata dari satu zat ke zat lain.

-          Zat yang menyebar disebut fase terdispersi (jika pada larutan disebut zat terlarut).

-          Zat ang sebagai tempat menyebar disebut medium pendispersi (pada larutan disebut pelarut).

-          Wujud koloid sesuai dengan medium pendispersinya.

2.       Macam – macam koloid

Fase terdispersi

Medium pendispersi

Jenis koloid

contoh

Cair

Padat

Gas

Gas

 

Cair

Cair

Padat

padat

Gas

Gas

Cair

Padat

 

Cair

Padat

Cair

padat

Aerosol

Aerosol padat

Buih

Busa padat

 

Emulsi

Emulsi padat

Sol

Sol padat

Kabut, awan

Asap rokok, debu

Buih sabun, krim

Styrofom, batu apung

Susu, santan

Mentega, keju, jelly

Cat, tanah liat

Kaca berwarna, alloy

 

 

3.       Sifat-sifat koloid

1.       Efek Tyndall

Adalah peristiwa penghamburan cahaya oleh partikel koloid, contoh : sorot lampu mobil pada udara yang berkabut, terjadinya warna biru langit pada siang hari.

Parikel koloid menghamburkan cahaya karena ukuran partikelnya.

2.       Gerak Brown

Adalah gerak acak ( zigzag ) partikel koloid dalam medium pendispersi. Gerak acak disebabkan tumbukan antar partikel  koloid (koloid bersifat relatif stabil)

3.       Elektroforesis

Adalah pergerakan partikel koloid dibawah pengaruh medan listrik. Contoh penggunaan alat cotrel pada penyaring debu pabrik.

4.       Adsorpsi

Adalah proses penyerapan partikel bermuatan ke permukaan partikel koloid. Contoh penjernihan air denagan tawas dan menyembuhkan sakit diare dengan norit.

5.       Koagulasi/penggumpalan

Adalah pengendapan partikel koloid akibat pelucutan muatan, bisa timbul jika ditambahkan zat elektrolit. contohnya terbentuknya delta  pada muara sungai dan penggumpalan lateks.

6.       Koloid pelindung

Adalah koloid yang dapat melindungi koloid lain agar tidak mengalamai koagulasi. Contoh penambahan kasein pada susu dan gelatin pada es krim.

7.       Dialisis

Adalah proses penyaringan ion – ion pengotor menggunakan selaput permiabel. Contoh proses cuci darah.

 

4.       Pembuatan koloid

1.       Cara kondensasi adalah cara mengubah ukuran partikel larutan menjadi ukuran koloid

a.       Reaksi hidrolisis

Contohnya pembuatan sol Fe(OH)3. Rekasinya:

                      FeCl3   +  HO  à Fe(OH)3  +   HCl

b.      Reaksi oksidasi

Pembuatan sol belerang.

2H2S   +  SO2   Ã  3S  +   2H2O

c.       Reaksi reduksi

Contohnya pembuatan sol emas.

2AuCl3   + 3 SnCl2  à 3SnCl4  +   2Au

d.      Mengubah pelarut

Belerang larut dalam etanol tapi tidak larut dalam air. Bila larutan jenuh belerang dalam etanol dituangkan ke dalam air, maka akan terbentuk sol belerang. Hal ini terjadi akibat menurunanya kelarutan belerang.

2.       Cara dispersi : mengubah ukuran partikel suspensi menjadi ukuran partikel koloid

a.       Cara mekanik : paerikel kasar diubah sampai halus. Dalam laboratorium dilakukan dengan menggunakan lumpang dan alu. Dalam industri menggunakan mesin penggiling koloid .

b.      Cara peptisasi : cara ini dilakukan dengan menambahkan ion sejenis pada suatu endapan sehingga endapan terpecah. Contoh endapan AgI dapat dipeptisasi dengan menambahkan KI atau AgNO₃ .

c.       Cara busur breidig

Memecah partikel dengan listrik bertegangan tinggi.

 

Thursday, 24 March 2016

Reaksi Asam Basa

Beberapa hal yang terjadi pada reaksi asam basa.
1.
Asam kuat + basa kuat.

a.
Jika keduanya habis, pH = 7


b.
Jika asam kuat sisa, hitung pakai rumus asam kuat.
[H⁺] = a . Ma


c.
Jika basa kuat sisa, hitung pakai rumus basa kuat.
[OH⁻] = b . Mb
2.
Asam kuat + basa lemah.

a.
Jika keduanya habis, hitung pakai rumus hidrolisis garam asam.
[H⁺] = {(Kw/Ka).nG}


b.
Jika asam kuat sisa, hitung pakai rumus asam kuat.
[H⁺] = a . Ma


c.
Jika basa lemah sisa, hitung pakai rumus penyangga basa.
[OH⁻] =  Kb . (b/ng)
3.
Asam lemah + basa kuat.

a.
Jika keduanya habis, hitung pakai hidrolisis garam basa.
[OH⁻] = {(Kw/Kb).nG}


b.
Jika asam lemah sisa, hitung pakai penyangga asam.
[H⁺] = Ka . (a/ng)


c.
Jika basa kuat sisa, hitung pakai rumus basa kuat.
[OH⁻] = b . Mb
4.
Asam lemah +  basa lemah

a.
Jika keduanya habis, hitung pakai hidrolisis garam dari asam lemah dan basa lemah.
[H⁺] = {(Ka/Kb).Kw}



b.
Jika asam lemah sisa, hitung pakai rumus asam lemah.
[H⁺] = (Ka . Ma)
= α.Ma

c.
Jika basa lemah sisa, hitung pakai rumus basa lemah.
[OH⁻] = (Kb . Mb)
= α.Mb

Wednesday, 23 March 2016

Rumus Dasar

Mol senyawa dicari dengan:

        

Mol unsur dicari dengan:

        

Molaritas Larutan dapat dihitung:

        

Hubungan Molaritas dan Kadar Larutan dapat dinyatakan:

        

Pada Pengenceran berlaku:

        

Pada Pencampuran dua larutan atau lebih berlaku:

        

Penyangga Asam:

        

                 a = mol asam

                 n = jumlah ion yang membentuk basa konjugasi

                 g = mol garam

Penyangga Basa:

        

                 b = mol basa

                 n = jumlah ion yang membentuk asam konjugasi

                 g = mol garam

Hidrolisis garam asam:

        

                 n = jumlah ion dari komponen garam yang mengalami hidrolisis

                 G = Molaritas garam

Hidrolisis garam basa:

        

                 n = jumlah ion dari komponen garam yang mengalami hidrolisis

                 G = Molaritas garam

Hidrolisis garam dari asam lemah- basa lemah:

        

Kelarutan dan Ksp

1.

Kelarutan (solubility = s)

 

Jumlah maksimum zat yang dapat larut dalam sejumlah tertentu volume pelarut, dengan satuan gram/Liter atau mol/Liter.

2.

Tetapan hasil kali kelarutan

 

Jika terdapat zat padat yang sukar larut dilarutkan ke dalam  sejumlah tertentu pelarut (air) maka akan terbentuk kesetimbangan kelarutan, sebagai berikut.:

          AxBy(s)      xAy+ (aq) +  yBx- (aq)

                

            Ksp = [Ay+]x [Bx-]y

 

3.

Hubungan kelarutan (s) dengan tetapan hasil kali kelarutan (Ksp)

 

Jika terdapat zat padat yang sukar larut dilarutkan ke dalam  sejumlah tertentu pelarut (air) maka akan terbentuk kesetimbangan kelarutan, sebagai berikut.:

          AxBy(s)      xAy+ (aq) +  yBx- (aq)

                 s                     xs                  ys

 

            Ksp = [Ay+]x [Bx-]y

                   =  (xs)x(ys)y

 

            Ksp = (xx . yy) s(x+y)

 

4.

Pengaruh ion senama

 

Zat elektrolit umumnya lebih mudah larut dalam air murni daripada dalam pelarut yang didalamnya terdapat salah satu dari kation atau anion pembentuk zat elektrolit tersebut.

Contoh:

AgCl kelarutannya dalam air murnui tentu lebih besar dari pada dilarutkan ke dalam larutan NaCl atau larutan AgNO. Pada NaCl terdapat anion senama dengan AgCl yaitu ion Cl¯, dan pada AgNO terdapat kation senama dengan AgCl yaitu ion Ag. Hal ini bisa dijelaskan dengan azas le Chatelier, sebagai berikut:

1.      AgCl dalam air:

AgCl      Ag   +   Cl¯

2.      AgCl dalam larutan AgNO

AgCl      Ag   +   Cl¯

Dari pelarut menghasilkan ion Ag yang akan menggeser kesetimbangan ke kiri.

3.      AgCl dalam larutan NaCl

AgCl      Ag   +   Cl¯

Dari pelarut menghasilkan ion Cl¯ yang akan menggeser kesetimbangan ke kiri.

 

Penyesuaian Ksp jika suatu elektrolit dilarutkan ke dalam pelarut yang mengandung ion senama:

Contoh:

1.      AgCl dilarutkan dalam larutan NaCl

 

AgCl      Ag   +   Cl¯

 

             Ksp = [Ag] [Cl¯]

                     = s . [Cl¯] dari NaCl

 

             Jika Ksp diketahui maka s sebagai kelarutan AgCl dalam NaCl  dapat dihitung.

 

2.      AgCl dilaruttkan dalam larutan AgNO

 

AgCl      Ag   +   Cl¯

 

               Ksp = [Ag] [Cl¯]

                             = [Ag] dari  AgNO . s

 

               Jika Ksp diketahui maka s sebagai  kelarutan AgCl dalam NaCl dapat dihitung.

 

5.

Hubungan Ksp dengan pH

 

Biasanya berlaku pada larutan basa. Fokusnya adalah menghitung  besarnya [OH¯].

Contoh:

Untuk larutan basa L(OH)2:

1.      Jika Ksp diketahui maka pH bisa dihitung.

-          Tulis kesetimbangan kelarutan basa tersebut.

-          Hitung s (kelarutan)

-          Hitung [OH¯]

-          Hitung pOH, lanjutkan dengan menghitung pH

-          Selaesai.

2.      Jika pH diketahui maka Ksp bisa dihitung:

-          Hitung pOH, lanjutkan dengan menghitung [OH¯]

-          Hitung s (kelarutan)

-          Hitung Ksp

-          Selesai.

 

6.

Reaksi Pengendapan.

 

Konsep:

-          Qsp < Ksp  (Larutan belum jenuh, belum terjadi pengendapan)

-          Qsp = Ksp  (larutan tepat jenuh, tepat akan mngendap)

-          Qsp > Ksp  (larutan lewat jenuh, sudah terjadi pengendapan)

 

Qsp adalah Quotion sulubility product. Besarnya konsentrasi ion yang masuk dalam rumus Qsp berasal dari perhitungan zat asal yang bereaksi dengan asumsi zat tersebut terionisasi sempurna.

Contoh:

Reaksi antar BaCl dengan NaSO akan menghasilkan BaSO suatu garam yang sukar larut.

 

        Qsp  =  [Ba²] dari BaCl . [SO²¯] dari NaSO

 

Dengan membandingkan nilai Qsp dengan Ksp BaSO bisa diketahui reaksi tersebut menghasilkan endapan atau tidak.